Dani Alves Anggap Juventus Tak Pengertian

Bola389 Dani Alves kembali menjelaskan alasannya meninggalkan Juventus. Alves menganggap Juventus tidak memahami dia seutuhnya. Alves cuma bertahan selama satu musim di Juventus setelah didatangkan dari Barcelona dengan status bebas transfer tahun lalu. Kini, dia merajut perjalanan barunya bersama Paris Saint-Germain.

Keputusan Alves meninggalkan Juventus terbilang mengejutkan. Sebab kala itu dia masih punya durasi kontrak satu musim lagi sebelum meminta pihak klub menyudahinya lebih cepat. Apalagi Alves relatif tampil bagus di musim pertamanya itu.

Alves kala itu merasa harus harus hengkang dari Bianconeri lantaran ingin mencari tantangan baru. Beberapa minggu alasan lain keluar dari mulutnya yakni soa larangan menyetel musik di ruang ganti membuatnya tak nyaman.

Kini, Alves kembali menambahkan alasannya meninggalkan Juventus. Menurutnya, Si Nyonya Tua tak pernah mengerti dengan dirinya. Alves mengaku bahwa dirinya adalah pesepakbola yang selalu ingin main dengan sesering mungkin menguasai bola.

“Juve? Aku adalah pemain yang suka bermain dengan intensitas bola yang banyak,” ujar Alves kepada Sky Sport Italia.

“Namun, Aku pikir mereka tidak mengerti gaya bermainku, dan karena itulah aku tidak senang dan memutuskan untuk mencari tim baru. Tapi, aku sangat berterima kasih kepada Juve,” tegas Alves.

Selama satu musim di Juve, Alves berhasil membantu klub memenangi Coppa Italia dan Serie A. Dia juga mampu membawa Bianconeri menjadi runner-up Liga Champions. Sementara Edinson Cavani sedang nyaman-nyamannya jadi andalan Paris St-Germain di lini depan. Tapi, kedatangan Neymar bisa saja bikin Cavani tak nyaman seperti dulu.

Cavani pernah merasakan bagaimana tidak enaknya dinomorduakan semasa PSG masih memiliki Zlatan Ibrahimovic. Kala itu Cavani didatangkan PSG dari Napoli pada 2013, setahun setelah Ibrahimovic datang ke klub itu.

Digaet dengan banderol 63 juta euro dan jadi pemain termahal sepanjang sejarah PSG, Cavani harusnya jadi andalan PSG di lini depan. Cavani lantas membayarnya lewat penampilan di atas lapangan.

Di musim pertamanya Cavani bikin 25 gol dari 43 penampilan, lalu dia bikin 31 gol di musim keduanya meski menurun di musim ketiganya dengan hanya bikin 25 gol. Di musim ketiganya itulah masa depan Cavani di PSG sempat dispekulasikan.

Kabarnya Cavani tak puas hanya jadi pilihan kedua di bawah Ibrahimovic yang lebih disayang oleh pelatih saat itu Laurent Blanc. Dalam formasi 4-3-3 kegemaran Blanc, Cavani memang dipaksa bermain sebagai penyerang sayap sedari musim pertamanya sementara Ibrahimovic jadi penyerang tengah, posisi favorit Cavani.

Blanc pada Januari 2016 sempat mengungkapkan tak mungkin mengorbankan Ibrahimovic hanya untuk menempatkan Cavani sebagai penyerang tengah. Itulah yang kemudian membuat Cavani sempat disebut-sebut bakal hengkang di akhir musim 2015/2016.

Tapi, pada akhirnya peruntungan Cavani berubah ketika Ibrahimovic memutuskan pergi di musim panas tahun lalu plus juga lengsernya Blanc dari kursi kepelatihan. Kedatangan Unai Emery sebagai pelatih baru membawa berkah bagi Cavani.

Pemain berjuluk El Matador itu kembali mendapat kepercayaan sebagai penyerang tengah dan itu dibuktikan lewat torehan golnya yang luar biasa musim lalu. Meski gagal membawa PSG mempertahankan gelar Liga Prancis, Cavani mencetak 49 gol dari 50 penampilan atau nyaris bikin gol setiap main.

Total 131 gol sudah dibuat Cavani dari 200 penampilan yang menjadikannya topskorer kedua sepanjang masa PSG, di bawah… Ibrahimovic. Cavani seperti membuktikan kalau posisi penyerang tengah adalah cara mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Tapi, kebahagiaan Cavani bisa jadi cuma bertahan semusim setelah keputusan PSG mendatangkan Neymar dari Barcelona musim panas ini. Dengan banderol 222 juta euro plus gaji besar 30 juta euro per musim, Neymar tentu bakal mendapat porsi utama lagi di lini depan.

Emery kemungkinan bisa saja mengorbankan Cavani untuk mengakomodir Neymar dalam formasi 4-3-3. Neymar bakal dipasang sebagai penyerang tengah diapit Cavani di sisi kiri dan Lucas Moura atau Angel Di Maria di kanan.

Atau mungkin saja Neymar mau mengalah dengan bermain di posisi kiri, yang selama ini dijalaninya di Barca. Apalagi Neymar juga cukup produktif dengan torehan lebih dari 100 gol selama empat musim di Barca.

Kini tinggal menunggu keputusan Emery seperti apa saja. Tapi Cavani setidaknya membuktikan bahwa dia masih bisa diandalkan Emery, seperti saat mencetak gol ke gawang Reims semalam saat PSG menang 2-0 di laga pembuka Ligue 1.